Thursday, April 6, 2017

RANGKAIAN JEMBATAN PADA PENGUKURAN ELEKTRONIK

RANGKAIAN JEMBATAN PADA PENGUKURAN ELEKTRONIK

      1.      Jembatan Wheatstone
Jembatan Wheatstone adalah rangkaian jembatan yang paling sederhana dan paling umum. Rangkaian ini digunakan dalam aplikasi pengkondisi sinyal dimana transduser mengubah tahanan dengan perubahan variabel dinamik. Jempatan wheatstone mempunyai empat lengan tahanan, sebuah sumber ggl dan sebuah detector nol yang biasanya berupa galvanometer. Jembatan wheatstone dikatakan setimbang apabila beda tegangan pada galvanometer adalah nol volt, berarti disini tidak ada arus yang mengalir melalui galvanometer. lni terjadi apabila tegangan C ke A sama dengan tegangan dari D ke A, atau jika tegangan dari C
ke B sama dengan tegangan dari D ke B. Dalam hal ini dapat dituliskan:


I1R1 = I2R2


klik link dibawah untuk file lengkapnya

Teori Dasar Penguat Operasional ( OP-AMP )

Teori Dasar Penguat Operasional ( OP-AMP )

 Penguat operasional (operational amplifier / op-amp) merupakan suatu jenis penguat elektronika dengan sambatan (bahasa Inggris: coupling) arus searah yang memiliki bati (faktor penguatan atau dalam bahasa Inggris: gain) sangat besar dengan dua masukan dan satu keluaran. op-amp pada umumnya tersedia dalam bentuk IC dan yang paling banyak digunakan adalah seri 741. op-amp adalah perangkat yang sangat efisien dan serba guna. Contoh penggunaan op-amp adalah untuk operasi matematika sederhana seperti penjumlahan dan pengurangan terhadap tegangan listrik hingga dikembangkan kepada penggunaan aplikatif seperti komparator dan osilator dengan distorsi rendah. Op-amp dalam bentuk rangkaian terpadu memiliki karakteristik yang mendekati karakteristik op-amp ideal tanpa perlu memperhatikan apa yang terdapat di dalamnya. Karakteristik op-amp ideal adalah:
  1. Bati tegangan tidak terbatas.
  2. Impedansi masukan tidak terbatas.
  3. Impedansi keluaran nol.
  4. Lebar pita (band width) tidak terbatas.
  5. Tegangan ofset nol (keluaran akan nol jika masukan nol).
Bagian Dalam :

        Bagian dalam penguat operasional seri 741 seperti dijelaskan di dalam teks. Pada diagram skema di atas digambarkan susunan bagian dalam IC op-amp seri 741. Nomor-nomor yang terdapat di dekat terminal pada gambar menunjukkan nomor kaki terminal pada IC 741 jenis 8-pin. Pin nomor 8 tidak terhubung dengan sirkuit. Ada beberapa hal menarik tentang sirkuit internal 741. Yang pertama adalah transistor .
         masukan terhubung dengan konfigurasi pengikut emiter NPN yang keluarannya terhubung secara langsung kepada sepasang transistor PNP yang terkonfigurasi sebagai penguat basis bersama. Konfigurasi ini memisahkan masukan dan mencegah sinyal umpan balik yang mungkin memiliki efek berbahaya yang bergantung pada frekuensi. Pasangan transistor pada bagian yang diwarnai dengan warna merah pada diagram disebut cermin arus, di mana basis terhubung langsung dengan kolektor pada salah satu transistor dari tiap pasangan dan kedua transistor saling terhubung pada emiter. Penggunaan cermin arus pada sirkuit masukan, yaitu pasangan transistor Q8 dan Q9 serta pasangan Q12 danQ13 , memungkinkan masukan menerima ayunan tegangan Sedangkan cermin arus ketiga, yaitu pasangan transistor Q10 dan Q11 membentuk cermin arus yang agak berbeda dengan resistor bernilai 5 K terhubung secara seri dengan emiter membatasi arus kolektor menjadi hampir nol sehingga dapat menjadi hubungan impedansi tinggi kepada catu daya negatif dan tidak membebani sirkuit masukan.
Keunikan lain dalam sirkuit internal ditunjukkan dengan warna hijau, di mana kedua resistor bias transistor terhubung sedemikian hingga tidak terlihat adanya sinyal masukan kepada basis transistor. Bila diasumsikan tidak ada arus basis yang mengalir pada transistor, dan nilai VBEsebesar 0,625 Volt maka menurut hukum Ohm akan diperlukan arus sebesar 0,625 V ÷ 7,5 K ,Ω = 0,0833 mA melalui resistor antara basis dan kolektor. Arus tersebut juga harus mengalir melalui resistor antara basis dan emiter sehingga menimbulkan tegangan jepit sebesar 0,0833 mA × 4,5 KΩ = 0,375 V sehingga menghasilkan total tegangan jepit melalui dua resistor sebesar 0,625 V + 0,375 V = 1,0 V. Hal ini digunakan untuk memberikan beda tegangan internal sebesar 1 Volt berapa pun tegangan keluaran keseluruhan sirkuit. ragam bersama tanpa melewati rentang daerah aktif tiap transistor dalam sirkuit.

Notasi Sirkuit

Simbol op-amp pada gambar sirkuit listrik.

Di mana:
  • V+: masukan non-pembalik
  • V-: masukan pembalik
  • Vout: keluaran
  • VS+: catu daya positif
  • VS-: catu daya negatif
Catu daya pada notasi op-amp seringkali tidak dicantumkan untuk memudahkan penggambaran rangkaian.


1. Penguat Diferensial Sebagai Dasar Penguat Operasional 

Penguat diferensial adalah suatu penguat yang bekerja dengan memperkuat sinyal yang merupakan selisih dari kedua masukannya. Berikut ini adalah gambar skema dari penguat diferensial sederhana:

Penguat diferensial tersebut menggunakan komponen BJT (Bipolar Junction Transistor) yang identik / sama persis sebagai penguat. Pada penguat diferensial terdapat dua sinyal masukan (input) yaitu V1 dan V2. Dalam kondisi ideal, apabila kedua masukan identik (Vid = 0), maka keluaran

Vod = 0
hal ini disebabkan oleh :
IB1 = IB2
Sehingga :
IC1 = IC2 dan IE1 = IE2.

Karena itu tegangan keluaran (VC1 dan VC2) harganya sama sehingga Vod = 0.
Apabila terdapat perbedaan antara sinyal V1 dan V2, maka : 
Vid = V1 – V2.

Hal ini akan menyebabkan terjadinya perbedaan antara IB1 dan IB2. Dengan begitu harga IC1 berbeda dengan IC2, sehingga harga Vod meningkat sesuai sesuai dengan besar penguatan Transistor. Untuk memperbesar penguatan dapat digunakan dua tingkat penguat diferensial (cascade). Keluaran penguat diferensial dihubungkan dengan masukan penguat diferensial tingkatan berikutnya. Dengan begitu besar penguatan total (Ad) adalah hasil kali antara penguatan penguat diferensial pertama (Vd1) dan penguatan penguat diferensial kedua (Vd2). Dalam penerapannya, penguat diferensial lebih disukai apabila hanya memiliki satu keluaran. Jadi yang diguankan adalah tegangan antara satu keluaran dan bumi (ground). Untuk dapat menghasilkan satu keluaran yang tegangannya terhadap bumi (ground) sama dengan tegangan antara dua keluaran (Vod), maka salah satu keluaran dari penguat diferensial tingkat kedua di hubungkan dengan suatu pengikut emitor (emitter follower).

Untuk memperoleh kinerja yang lebih baik, maka keluaran dari pengikut emiter dihubungkan dengan suatu konfigurasi yang disebut dengan totem-pole. Dengan menggunakan konfigurasi ini, maka tegangan keluaran X dapat berayun secara positif hingga mendekati harga VCC dan dapat berayun secara negatif hingga mendekati harga VEE.
Apabila seluruh rangkaian telah dihubungkan, maka rengkaian tersebut sudah dapat dikatakan sebagai penguat operasional (Operational Amplifier (Op Amp)). Penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini akan dilakukan pada sub bab berikut.

2. Penguat Operasional
Penguat operasional (Op Amp) adalah suatu rangkaian terintegrasi yang berisi beberapa tingkat dan konfigurasi penguat diferensial yang telah dijelaskan di atas. Penguat operasional memilki dua masukan dan satu keluaran serta memiliki penguatan DC yang tinggi. Untuk dapat bekerja dengan baik, penguat operasional memerlukan tegangan catu yang simetris yaitu tegangan yang berharga positif (+V) dan tegangan yang berharga negatif (-V) terhadap tanah (ground). Berikut ini adalah simbol dari penguat operasional:

  2.1. Karakteristik Ideal Penguat Operasional

Penguat operasional banyak digunakan dalam berbagai aplikasi karena beberapa keunggulan yang dimilikinya, seperti penguatan yang tinggi, impedansi masukan yang tinggi, impedansi keluaran yang rendah dan lain sebagainya. Berikut ini adalah karakteristik dari Op Amp ideal:

v  Penguatan tegangan lingkar terbuka (open-loop voltage gain) AVOL = ¥-
v  Tegangan ofset keluaran (output offset voltage) VOO = 0
v  Hambatan masukan (input resistance) RI = ¥
v  Hambatan keluaran (output resistance) RO = 0
v  Lebar pita (band width) BW = ¥
v  Waktu tanggapan (respon time) = 0 detik
v  Karakteristik tidak berubah dengan suhu

Kondisi ideal tersebut hanya merupakan kondisi teoritis tidak mungkun dapat dicapai dalam kondisi praktis. Tetapi para pembuat Op Amp berusaha untuk membuat Op Amp yang memiliki karakteristik mendekati kondisi-kondisi di atas. Karena itu sebuah Op Amp yang baik harus memiliki karakteristik yang mendekati kondisi ideal. Berikut ini akan dijelaskan satu persatu tentang kondisi-kondisi ideal dari Op Amp.

 2.1.1. Penguatan Tegangan Lingkar Terbuka

Penguatan tegangan lingkar terbuka (open loop voltage gain) adalah penguatan diferensial Op Amp pada kondisi dimana tidak terdapat umpan balik (feedback) yang diterapkan padanya seberti yang terlihat pada gambar 2.2. Secara ideal, penguatan tegangan lingkar terbuka adalah:
Tanda negatif menandakan bahwa tegangan keluaran VO berbeda fase dengan tegangan masukan Vid. Konsep tentang penguatan tegangan tak berhingga tersebut sukar untuk divisualisasikan dan tidak mungkin untuk diwujudkan. Suatu hal yang perlu untuk dimengerti adalah bahwa tegangan keluaran VO jauh lebih besar daripada tegangan masukan Vid. Dalam kondisi praktis, harga AVOL adalah antara 5000 (sekitar 74 dB) hingga 100000 (sekitar 100 dB).

Tetapi dalam penerapannya tegangan keluaran VO tidak lebih dari tegangan catu yang diberikan pada Op Amp. Karena itu Op Amp baik digunakan untuk menguatkan sinyal yang amplitudonya sangat kecil.

 2.1.2. Tegangan Ofset Keluaran

Tegangan ofset keluaran (output offset voltage) VOO adalah harga tegangan keluaran dari Op Amp terhadap tanah (ground) pada kondisi tegangan masukan Vid = 0. Secara ideal, harga VOO = 0 V. Op Amp yang dapat memenuhi harga tersebut disebut sebagai Op Amp dengan CMR (common mode rejection) ideal.

Tetapi dalam kondisi praktis, akibat adanya ketidakseimbangan dan ketidakidentikan dalam penguat diferensial dalam Op Amp tersebut, maka tegangan ofset VOO biasanya berharga sedikit di atas 0 V. Apalagi apabila tidak digunakan umpan balik maka harga VOO akan menjadi cukup besar untuk menimbulkan saturasi pada keluaran. Untuk mengatasi hal ini, maka perlu diterapakan tegangan koreksi pada Op Amp. Hal ini dilakukan agar pada saat tegangan masukan Vid  = 0, tegangan keluaran VO juga = 0. Apabila hal ini tercapai,

 2.1.3. Hambatan Masukan

Hambatan masukan (input resistance) Ri dari Op Amp adalah besar hambatan di antara kedua masukan Op Amp. Secara ideal hambatan masukan Op Amp adalah tak berhingga. Tetapi dalam kondisi praktis, harga hambatan masukan Op Amp adalah antara 5 kW hingga 20 MW, tergantung pada tipe Op Amp.  Harga ini biasanya diukur pada kondisi Op Amp tanpa umpan balik. Apabila suatu umpan balik negatif (negative feedback) diterapkan pada Op Amp, maka hambatan masukan Op Amp akan meningkat.

Dalam suatu penguat, hambatan masukan yang besar adalah suatu hal yang diharapkan. Semakin besar hambatan masukan suatu penguat, semakin baik penguat tersebut dalam menguatkan sinyal yang amplitudonya sangat kecil. Dengan hambatan masukan yang besar, maka sumber sinyal masukan tidak terbebani terlalu besar.

2.1.4. Hambatan Keluaran

Hambatan Keluaran (output resistance) RO dari Op Amp adalah besarnya hambatan dalam yang timbul pada saat Op Amp bekerja sebagai pembangkit sinyal. Secara ideal harga hambatan keluaran RO Op Amp adalah = 0. Apabula hal ini tercapai, maka seluruh tegangan keluaran Op Amp akan timbul pada beban keluaran (RL), sehingga dalam suatu penguat, hambatan keluaran yang kecil sangat diharapkan.

Dalam kondisi praktis harga hambatan keluaran Op Amp adalah antara beberapa ohm hingga ratusan ohm pada kondisi tanpa umpan balik. Dengan diterapkannya umpan balik, maka harga hambatan keluaran akan menurun hingga mendekati kondisi ideal.

2.1.5. Lebar Pita

Lebar pita (band width) BW dari Op Amp adalah lebar frekuensi tertentu dimana tegangan keluaran tidak jatuh lebih dari 0,707 dari harga tegangan maksimum pada saat amplitudo tegangan masukan konstan. Secara ideal, Op Amp memiliki lebar pita yang tak terhingga. Tetapi dalam penerapannya, hal ini jauh dari kenyataan.

Sebagian besar Op Amp serba guan memiliki lebar pita hingga 1 MHz dan biasanya diterapkan pada sinyal dengan frekuensi beberapa kiloHertz. Tetapi ada juga Op Amp yang khusus dirancang untuk bekerja pada frekuensi beberapa MegaHertz. Op Amp jenis ini juga harus didukung komponen eksternal yang dapat mengkompensasi frekuensi tinggi agar dapat bekerja dengan baik.

2.1.6. Waktu Tanggapan

Waktu tanggapan (respon time) dari Op Amp adalah waktu yang diperlukan oleh keluaran untuk berubah setelah masukan berubah. Secara ideal harga waktu respon Op Amp adalah = 0 detik, yaitu keluaran harus berubah langsung pada saat masukan berubah.

Tetapi dalam  prakteknya, waktu tanggapan dari Op Amp memang cepat tetapi tidak langsung berubah sesuai masukan. Waktu tanggapan Op Amp umumnya adalah beberapa mikro detik hal ini disebut juga slew rate. Perubahan keluaran yang hanya beberapa mikrodetik setelah perubahan masukan tersebut umumnya disertai dengan oveshoot yaitu lonjakan yang melebihi kondisi steady state. Tetapi pada penerapan biasa, hal ini dapat diabaikan.

2.1.7. Karakteristik Terhadap Suhu

Sebagai mana diketahui, suatu bahan semikonduktor yang akan berubah karakteristiknya apabila terjadi perubahan suhu yang cukup besar. Pada Op Amp yang ideal, karakteristiknya tidak berubah terhadap perubahan suhu. Tetapi dalam prakteknya, karakteristik sebuah Op Amp pada umumnya sedikit berubah, walaupun pada penerapan biasa, perubahan tersebut dapat diabaikan.
 
2.2. Implementasi Penguat Operasional

          Rangkaian yang akan dijelaskan dan dianalisa dalam tulisan ini akan menggunakan penguat operasional yang bekerja sebagai komparator dan sekaligus bekerja sebagai penguat. Berikut ini adalah konfigurasi Op Amp yang bekerja sebagai penguat: 
Gambar di atas adalah gambar sebuah penguat non inverting.  Penguat tersebut dinamakan penguat noninverting karena masukan dari penguat tersebut adalah masukan noninverting dari Op Amp. Sinyal keluaran penguat jenis ini sefasa dengan sinyal keluarannya. Adapun besar penguatan dari penguat ini dapat dihitung dengan rumus: 

  AV = (R1+R2)/R1

Av = 1 + R2/R1
Sehingga :

VO = 1+(R2/R1) Vid

Selain penguat noninverting, terdapat pula konfigurasi penguat inverting. Dari penamaannya, maka dapat diketahui bahwa sinyal masukan dari penguat jenis ini diterapkan pada masukan inverting dari Op Amp, yaitu masukan dengan tanda “-“. Sinyal masukan dari pengaut inverting berbeda fasa sebesar 1800 dengan sinyal keluarannya. Jadi jiak ada masukan positif, maka keluarannya adalah negatif. Berikut ini adalah skema dari penguat inverting:

Penguatan dari penguat di atas dapat dihitung dengan rumus:

Av = - R2/R1
Sehingga:

V0 = - (R2/R1)Vid


TIPE DAN KARAKTERISTIK INSTRUMEN

TIPE DAN KARAKTERISTIK INSTRUMEN

      A.    Defenisi Instrumen
Instrumen merupakan suatu peralatan yang digunakan dalam suatu sistem aplikasi. Alat instrumentasi ini merupakan salah satu faktor yang menentukan hasil produksi, dimana alat instrumentasi ini digunakan dalam  mengukur, mengontrol, mendeteksi, dan menganalisa, baik secara manual maupun secara otomatis. Instrumen dapat dibagi menurut beberapa kriteria. Ini berguna dalam beberapa atribut instrumen tertentu seperti akurasi, biaya, dan penerapan umum untuk aplikasi yang berbeda.

A.1 Instrumen aktif dan instrument pasif
Instrumen aktif atau pasif merupakan instrument yang memiliki keluaran seluruhnya diproduksi oleh kuantitas yang diukur atau kuantitas yang diukur hanya memodulasi besarnya beberapa sumber daya eksternal.
·    Instrumen aktif merupakan instrument yang menggunakan sumber daya dari luar / external power source (baterai) dari luar untuk menghasilkan suatu besaran yang diukur dari sebuah instrumen.
·   Instrumen pasif merupakan instrument yang tidak menggunakan energy dari luar, sehingga hasil pengukuran instrument adalah murni dari perubahan besaran dari sistem. Biasanya instrument jenis pasif menggunakan sistem mekanik sabagai elemen pengkonversi variable.
A.2 Instrumen tipe null dan instrument tipe defleksi
·         Instrumen tipe defleksi adalah suatu alat ukur yang menggunakan fenomena defleksi / perubahan posisi menjadi sebuah elemen yang mengkonversi besaran fisik yang akan diukur pada sistem
·         Instrumen tipe null sering disebut juga dead weight instrument, dimana instrument ini menggunakan variable nol sebagai acuan pengukuran.
A.3 Instrumen analog dan instrument digital
·      Instrument analog dengan output analog memiliki range pembacaan yang tidak        terbatas, artinya pembacaan tidak dapat dilakukan dengan pasti
·    Sebuah instrument tipe digital mempunyai output yang berbentuk diskrit, sehingga memiliki jumlah nilai yang terbatas. Instrumen dengan output digital dapat diolah oleh sebuah computer sehingga data yang didapatkan dari instrument tipe ini bisa diolah secara digital.

     B.    Karaketistik Pengukuran Statik
Akurasi dari sebuah instrument alat ukur merupakan hal yang perlu diperhatikan karena pentingnya karakteristik ini pada suatu penerapan sistem yang kritis. Akurasi merupakan salah satu karatkeristik statik yang dimiliki oleh setiap instrument, karakteristik statik yang dari sebuah instrument dapat dilihat pada penjelasan berikut ini :
1.      Akurasi
  Akurasi dapat didefinisikan dengan seberapa dekat hasil pengukuran dengan nilai sebenarnya yang diukur.
2.       Presisi
      Presisi merupakan sebuah istilah dalam dunia instrumentasi untuk mendeskripsikan        degree of freedom dari instrument mengenai random error.
3.       Toleransi
     Toleransi merupakan istilah yang dapat diartikan dengan besarnya error maksimum yang dapat diterima dari suatu nilai. Pada kenyataannya toleransi sering didefinisikan sebagai standard deviasi dari sebuah pabrik untuk komponen yang dibuatnya dengan nilai tertentu.
4.      Range / Daerah Ukur
    Range / daerah ukur dapat didefinisikan sebagai pengukuran minimum dan maksimum yang dapat dilakukan suatu instrument. 
5.      Linieritas
    Linieritas dapat didefinisikan sebagai nilai pengukuran yang memiliki deviasi kecil    terhadap nilai aslinya.
6.      Sensitivitas
   Sensitivitas adalah nilai perubahan dari sebuah hasil pembacaan instrument apabila diberikan variasi sejumlah input yang berbeda. Sensitivitas dapat dirumuskan sebagai perbandingan antara output dengan input yang diberikan.

7.      Threshold
      Threshold dapat didefinisikan sebagai minimum input yang harus diberikan pada sebuah instrument untuk bekerja.

8.      Resolusi 
      Ketika sebuah instrument bekerja melakukan pembacaan terdapat batasn yang menunjukkan perubahan terkecil yang dapat ditunjukkan oleh sebuah instrument, Salah satu hal yang mempengaruhi resolusi pengukuran dari sebuah instrument adalah seberapa kecil skala output pembacaan dibagi menjadi sub-divisi.

9.      Histerisis
    Hysteresis merupakan hasil pengukuran yang berbeda apabila sebuah input dari        pengukuran dilakukan secara naik (increase) dan berkurang (decrease).

10.      Dead space 
   Dead Space merupakan daerah dengan input yang berbeda yang mempunyai hasil pembacaan sama dengan nol / tidak terdapat perubahan pembacaan pada instrument.

       C.    Karakteristik Pengukuran Dinamik
      
       Karakteristik dinamik dari pengukuran merupakan perilaku yang ada dari instrument yang menunjukkan perubahan waktu ketika dilakuakan perubahan masukan dengan waktu ketika output instrument mencapai respon nilai steady-nya. Point utama yang harus dipahami dalam prakteknya adalah dimana bermacam – macam respon yang berbeda dari instrument terjadi ketika input pengukuran / measurand yang diberikan pada tiap instrument bervariasi.

INSTRUMEN PENGUJI ELEKTRONIK

INSTRUMEN PENGUJI ELEKTRONIK

Alat ukur listrik merupakan peralatan yang diperlukan oleh manusia. Karena besaran listrik seperti : tegangan, arus, daya, frekuensi dan sebagainya tidak dapat secara langsung ditanggapi oleh panca indera. Untuk mengukur besaran listrik tersebut, diperlukan alat pengubah. Atau besaran ditransformasikan ke dalam besaran mekanis yang berupa gerak dengan menggunakan alat ukur. Perlu disadari bahwa untuk dapat menggunakan berbagai macam alat ukur listrik perlu pemahaman pengetahuan yang memadai tentang konsep – konsep teoritisnya.
1.      Meter Digital
Semua jenis meter digital pada dasarnya diubah dalam bentuk voltmeter digital (DVM), terlepas dari kuantitas yang dirancang dalam mengukur. Multimeter digital juga merupakan voltmeter digital yang berisi beberapa sirkuit konversi, sehingga memungkinkan pengukuran tegangan, arus dan resistansi dalam satu instrumen.
Meter digital telah dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan untuk akurasi pengukuran tinggi dan kecepatan lebih cepat dari respon terhadap perubahan tegangan yang bisa dicapai dengan instrumen analog. secara teknis meter analog lebih unggul di hampir segala hal. Namun, memiliki biaya yang lebih besar karena biaya produksi lebih tinggi dibandingkan dengan meter analog. Sifat biner dalam output dari instrumen digital dapat segera diterapkan pada layar yang berupa angka diskrit. Di mana operator manusia diperlukan untuk mengukur dan sinyal rekor level tegangan, bentuk output membuat kontribusi penting untuk keandalan pengukuran dan akurasi.

1.1. Multimeter Digital

Multimeter merupakan alat ukur yang paling banyak dipergunakan oleh para praktisi, hobist dan orang yang bekerja berkaitan dengan rangkaian listrik dan elektronika. Multimeter dapat dipergunakan untuk mengukur besaran listrik, seperti : hambatan, arus, tegangan. Karena dirancang untuk mengukur tiga besaran tersebut, maka multimeter sering disebut AVO meter (Amper Volt Ohm). Ada beberapa fungsi multimeter, yaitu sebagai berikut :
             a)      Mengukur hambatan (Ohmmeter),
             b)      Mengukur arus (Ampermeter),
             c)      Mengukur tegangan (Voltmeter).

Adapun fungsi tambahan dari suatu multimeter adalah sebagai berikut :
a)    Amperemeter AC
b)   Penguji diode
c)    Penguji transistor
d)   Pengukur temperature
e)    Pengukur kapasitansi

1.1.1.      Bagian-bagian Multimeter Digital
·      Pencacah/peraga
Bagian ini terdiri pencacah 3 ½ digit, memory, decoder dan piranti peraga. Bagian ini memiliki input, count, transfer dan reset. Dari bagian pencacah juga memberikan keluaran untuk mengontrol fungsi pengukuran analog.
·      Control Logic
Bagian ini berfungsi membangkitkan pulse yang diperlukan oleh rangkaian untuk perputaran masukan, dihitung dan mengontrol fungsi pencacah.
·      Master Lock
Rangkaian ini terdiri Kristal osilator, pembagi frekuensi untuk pewaktuan semua pengukuran.
·      Pembentuk gelombang masukan (Input wave shaper)
Rangkaian ini difungsikan selama pengukuran frekuensi, perioda mengubah sinyal masukan ke dalam bentuk yang tepat untuk dihubungkan ke rangkaian logic.
·      Time Control
Fungsi bagian ini digunakan untuk memulai dan menghentikan pencacah pada saat pengukuran.
·      Voltmeter dan pengubah Analog ke Digital
Bagian ini berisi rangkaian impedansi masukan yang tinggi, penyearah, pengubah tegangan ke waktu dual-ramp digunakan untuk pengukuran tegangan dan resistansi.

FILE LENGKAPNYA BISA KLIK LINK DIBAWAH INI...